Pojoknews.com - Dalam industri maritim, STS Indonesia atau Ship to Ship bunkering merupakan proses yang penting dan sangat krusial. Itu merupakan proses pengisian bahan bakar dari satu kapal ke kapal lain secara langsung. Biasanya proses tersebut dilakukan untuk mengisi bahan bakar kapal besar tanpa harus bersandar terlebih dahulu di dermaga.
Dengan begitu, waktu tunggu bisa dipercepat, biaya operasional berkurang, sekaligus mendukung mobilitas kapal. Jadi, jika Anda berkecimpung di bisnis maritim, penting untuk memperhatikan jenis bahan bakar yang digunakan dalam proses STS. Sangat disarankan menggunakan reputable fuel supplier dengan bahan berkualitas tinggi.
Jenis-Jenis Reputable Fuel
1. LNG (Liquefied Natural Gas)
Dewasa ini, LNG semakin banyak digunakan dalam proses STS bunkering. Alasannya, bahan bakar tersebut dinilai lebih bersih lantaran emisi karbon dioksida yang dihasilkan lebih rendah hingga 25-30%.
Pembakaran LNG untuk bahan bakar kapal hampir tidak menghasilkan nitrogen oksida, sulfur oksida, jelaga, maupun partikulat halus yang dapat menjadi penyebab polusi udara. Hal ini dapat terjadi karena proses pemurniannya yang intensif sebelum dicairkan. Sehingga penggunaan LNG diadopsi sebagai bahan bakar transisi menuju pelayaran rendah emisi di zaman modern seperti sekarang.
Tentunya LNG untuk bunkering juga sudah memenuhi standar ISO (International Organization for Standardization) dan IMO (International Maritime Organization), sehingga aman serta efisien. Namun tantangannya terletak pada biaya investasi awal yang tinggi dan risiko kebocoran metana.
2. HFO (Heavy Fuel Oil)
Jenis reputable fuel supplier Indonesia lainnya untuk proses STS bunkering adalah HFO. Jenis ini juga sering dikenal dengan istilah MFO (Marine Fuel Oil), yakni bahan bakar residu kental yang membutuhkan pemanasan terlebih dahulu sebelum digunakan. Umumnya bahan bakar tersebut punya warna hitam pekat dan memiliki viskositas tinggi dengan karakteristik yang berat.
Jadi, apabila kapal penerima mempunyai mesin yang dirancang untuk bahan bakar dengan densitas dan viskositas tinggi, maka HFO sangat bagus digunakan. Terutama untuk kapal-kapal besar seperti tanker atau cargo, yang membutuhkan efisiensi bahan bakar maksimal dan hendak melakukan pelayaran jarak jauh.
3. MDF (Marine Diesel Fuel)
Jika HFO digunakan untuk kapal dengan mesin berviskositas tinggi, maka MDF secara khusus digunakan untuk kapal dengan mesin berkecepatan rendah sampai menengah. Itu karena jenis fuel supplier Indonesia ini punya viskositas lebih rendah bila dibandingkan dengan Marine Fuel Oil tadi.
Dengan viskositas lebih rendah dan titik nyala lebih tinggi, MDF umumnya memiliki kandungan air serta sulfur yang sangat rendah sehingga aman untuk mencegah korosi. Dalam proses STS bunkering, bahan bakar ini digunakan pada berbagai situasi seperti prosedur changeover bahan bakar, saat memasuki emission control areas (ECA), hingga keperluan perawatan mesin.
4. HSD (High Speed Diesel)
HSD juga sangat cocok digunakan dalam proses STS bunkering. Biasanya jenis minyak solar tersebut banyak dimanfaatkan untuk penggerak mesin utama kapal maupun mesin bantu. Penggunaannya menawarkan fleksibilitas operasional dan kecepatan transfer. Sebab bila dibandingkan bahan bakar yang berat, karakteristik HSD bisa memudahkan proses pemompaan.
Anda pun tidak perlu khawatir soal keamanannya, sebab bahan bakar ini sudah mengantongi standar industri. Namun tetap pastikan bahwa prosedur keamanan Ship to Ship bunkering diterapkan dengan ketat guna mencegah terjadinya tumpahan bahan bakar.
Itu dia jenis-jenis reputable fuel yang banyak digunakan dalam proses STS Indonesia. Dari empat jenis di atas, mana yang sebaiknya dipilih? Ini tentu tergantung mesin kapal yang Anda gunakan. Selain itu, pastikan pula bagaimana regulasi lingkungan setempat sebelum memilih menggunakan salah satu jenis untuk Ship to Ship bunkering.
